Tuesday, July 2, 2013

Alibi dari Hujan

Aku jatuh cinta pada rintik hujan yang tersisa di jendela kamarku. Juga pada lampu jalan yang diam-diam mengawasi dari sisi rerimbunan pohon yang sibuk membasuh daunnya dengan embun malam. Dari sini ku lihat diam, hanya sesekali angin bersiul menghantar malam menuju pagi. Juga ada dia, yang sesekali tertawa, atau marah, atau gelisah lalu menangis. Haruskah aku bertegur sapa dengannya? Menanyakan kabarnya seakan aku perduli?
Lagi-lagi malam datang. Untung saja tadi hujan juga datang. Karna jika tidak, aku akan melebur sekali lagi dalam peluh yang diiringi pertanyaan membunuh. Untung saja hujan datang, aku bisa tenang, sembari memandang jalan yang bercabang entah berapa di depan jendela ini. Lalu mencoba menghitung berapa banyak tetes air yang akan jatuh bila semua kubangan itu aku tuang kedalam cawan di tanganku ini.
Hilir mudik manusia malam menyelingi angin yang bersiul sendiri. Malamku tak lagi terlalu sepi. Tapi benar, aku sendiri!
Aku mundur dari mereka yang sebenarnya perduli, kukatakan mereka berpura-pura perduli. Aku kabur dari realita yang mengantung, kukatakan mereka sudah selesai!
Aku tak ingin mengenang diriku seperti seorang pesakit jiwa. Tapi juga tak mampu terlihat waras.
hah, padahal hujan turun. Tapi dia cuma membasuh jalan dan pertokoan dan pepohonan dan mereka semua. Kecuali aku!

No comments:

Post a Comment